Sunday, 17 July 2011

JIWA

Dahulu jiwa tercipta tidak ada yang percaya
Bahwa jiwa akan berbuat aniaya terhadap sesama
Atas kasih sayang jiwa menjadi mulia
Semesta sujud berikan penghormatan....

Jiwa turun kedunia karena wanita...
Karena wanita jiwa mengerti arti bahagia
Wanita dicipta untuk jiwa agar memahami arti cinta
Dgn cinta jiwa mengerti bahwa jiwa adalah seorang hamba...

Cinta bukan memiliki akan tetapi hanya ingin dimiliki
Biarlah cinta yang membawa jiwa kepada pemiliknya
Hanya Tulus dan Ikhlas yang membuat cinta itu bermakna
Karena Cinta telah cukup untuk cinta....!

AGAMA MENURUT DEFINISI JAWA

Hampir seluruh umat manusia di bumi ini beragama. Meskipun agama di dunia ini lebih dari satu itupun tetap agama, yang merupakan satu pegangan hidup manusia. Dan semua tetap memliki definisi yang berbeda-beda juga tentang apa itu agama.

Hari ini penulis mencoba tuk mengolah akal, pikiran, serta rasa untuk mendefinisikan apa arti agama secara Jawanologi. Dilihat dari susunan kata, Agama terdiri dari tiga aksara jawa yaitu: Ha,Ga, dan Ma. Masing-masing aksara memiliki arti tersendiri. 'Ha' berarti Hurip (Hidup), 'Ga' berarti Gusti (Tuhan), 'Ma' berarti Manungso (Manusia).




Dari Gambar diatas kita dapat mengartikan kata "Agama" sesuai hitungan masing-masing aksara:
Ha: 1
Ga: 17
Ma: 16
Ketiganya bila dijumlahkan akan menjadi 34 dan 34 sendiri adalah berjumlah 7 (tujuh) yang dalam bahasa jawa dibilang pitu yang artinya pituduh atau petunjuk agar bisa menuju apa tujuan hidup yang sebenarnya.

Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil satu kesimpulan yang berarti agama adalah satu pegangan hidup yang mengatur bagamaina cara hidup bertuhan dan berkemanusiaan. Dan Agama itulah yang akan menunjukkan, menuntun dan mengarahkan hidup manusia dalam kehidupan agar tidak tersesat dalam melangkah didalam kehidupan ini.

Memang agama didunia ini lebih dari satu dan memiliki sebutan yang berbeda-beda, namun semua agama itu mengajarkan ajaran yang sama yaitu mengajarkan bagaimana cara bertuhan dan berkemanusian. Jika seluruh umat beragama menyadari satu kesamaan tersebut, maka keharmonisan hidup di dunia ini akan terwujud tanpa ada peselisihan bahkan peperangan antar umat manusia yang hanya menunjukkan kegoisan dan kebodohan akal, pikiran, dan rasa sebagai manusia yang beragama.
Dan dengan menyadari kesamaan tersebut, mungkin tidak hanya keharmonisan hidup yang akan terwujud, mungkin keromantisan dunia inipun akan terlihat jelas menghiasi kehidupan ini. (LOL

FILSAFAT PANDHAWA

FILSAFAT PENDHAWA

pendhawa mempunyai makna hukum:
1. Pendadaraning titah iku tuhu mulo
2. Dhawuh kersaning Qodrati
3. Wajib den tindaki kelayan tulus mulus ayekti

Demikianlah hukum illahi yang berlaku bagi manusia, manusia harus selalu di godhok oleh derita serta kesengsaraan sebagai ujian mematangkan jiwa serta akhlak betuhanNYA (STRILIGXIGOMX OXXIUMXIUMXO)
Kesatria pandhawa senantiasa mendapat gemblengan lahir batin demi mempersiapkan Baratha Yuda Jaya BinagunNYA

pendhawa yang di sinari Hukum alfabetogxi: 16.5.14.4.8.23.1 = 72
I. 70 = berasal dari 17-8-45 :
a. Manusia tidak akan lepas dari hukum belahan tujunya.
b. Manusia pendhawa/Madrima Suprama/manusia super harus mencapai " INDRA LOKANYA " ( kesorgaanya/manunggalin kawulo gusti )
c. 8 = dari hukum masyarakat bangsa: demokrasi salaka darma yang di sebut Hastabharata : 8 jalan utama
1. Ora jahil 5. Ora diri
2. ora methakil 6. Ora dumeh
3. Ora drengki 7. Ora aji mumpung
4. Ora srei 8. Ora ma-pat-na
d. 45 = adalah jumlah rumus angka Qodrati jawanologi:0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
a.1 = Manungso (manunggaling roso/mani wangsa tetesing air mani yang menjelma INSAN mewujudkan bebrayan, msyarakat keluarga ( wongso)
satu padukuhan yang dipimpin Ki Pagede ( buyut dari semua wangsa)
b.2 = orang tua yang mengadakanya ( kalih - kagalih wontenipun taruna )
c.3 = Trimurti soko kencana shakti ( tigo- katitisaning igo kiwo-------wanito---- hawa dari tulang rusuk kiri Adam )
d.4 = Budhi darma mulia sebagai pewarna hidup manusia atau masih merupakan nur illahi/ catur dharmi sekawan : sembodo- kharsa - wanda perwujudtan
dari niat yang alami ( Qodrati ) " Catur hening wismendyia : melakukan sesuatu atas dasar kewajiban qodrati secara mantab.)
e.5 = lima : liwating manungso soko margo hino ( jalan dosa ) karenanya manusia harus membayar cicilan kharmanya atas dasar " Perbuatan yang terpuji"
gangsal : gangangane salangkang ( wadi = alat vital
f.6 = Nenem : nedya nembung karo sing kagungan mrih laras karo hananing toto lan susilo.
" Hiksana wudya dharmyastibwu Aum "
g.7 = Pitu : pitedah tunggal, sangkaning soko : Sir - Cipto - kharso ( tri gatra Yakti Guna )
Sir ingsun-Ciptaningsun-kharsaningsun
h.8 = Wolu: wohing luhur :Dikodratkan asal dari NYA, tata susila akan melahirkan budi pekerti luhur ( kharma phala )
i. 9 = Songo : - Sangkan paraning ngahurip
- Song - songe mula hana
( segala perbuatan mulia akan di dukung oleh segala kasihNYA) " dharmaningrum ptat tityuga hananing gung "

II. 2 = HUKUM SERTA KASIH SAYANG YANG MENYERTAI KITA ABDI PANGEJAHWANTAH SIFATNYA "

Hukum jawnologinya : pa : di pepet gatrnogxinya : 11- 12 - 9 = 32 pengetrapaning toto susilo mulo di pepet dining Gunging
dha : Dhawuh sabdaningsun den tindakno kelayan bener mungguhing pener.
Wa : Wahananing Sun, iku wujudno kelayan Wahananing iro kang mulus.

Betapa manusia selalu dan senantiasa mandapat petunjuk - ilhamNYA." disinilah bukti kenyataanya betapa leluhur bangsa tidak bosan-bosanya memberikan petunjuk serta hukum : Dharmaning astbwiya

MORAL

Menurut sastra jawa 'Moral' tersusun dari tiga aksara, yakni: Ma, Ra, dan La. Masing-masing aksara memiliki arti sendiri-sendiri. Ma berarti Manungso atau Manusia, Ra artinya Rasa, La berarti Laku atau perbuatan. Jadi moral berarti segala tingkah laku manusia yang didasari dari kepekaan rasa. Jika suatu tingkah laku tanpa di dasari rasa (rasa rumangsa, rasa risih, rasa rinekso, serta rasa rumekso/saling menghormati) maka itu bukanlah moral melainkan abmoral.

Didalam setiap agama, moral adalah suatu hal yang diutamakan, tujuan seluruh agama yang ada di dunia ini guna menata/membina moral seluruh umat manusia di dunia. Dan semua agama pasti mengajarkan itu. Karena itu moral sangatlah penting didalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan jika dalam suatu kehidupan tanpa moral maka akan hancurlah kehidupan itu.

Dalam bab moral ini kita ambil contoh dari memburuknya negara kita tercinta ini. Mungkin rapuhnya negara kita ini akibat krisis moral yang terjadi pada bangsa ini. Sehinga banyak tindakan abmoral, seperti penyelewengan sumpah jabatan, penyalahgunaan kemajuan tekhnologi, ilegal logging, dan lain-lain. Itu semua merupakan hasil dari suatu perbuatan manusia yang tidak didasari oleh rasa yang suci alias tak bermoral.

Kita semua tahu bahwa negara kita ini adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang mayoritas rakyatnya mengaku mempunyai iman/bertuhan. Akan tetapi mereka semua belum tentu memiliki moral yang tinggi. Sesungguhnya moral adalah suatu cermin dari manusia yang beriman/bertuhan, tetapi mengapa banyak terjadi tindakan/tingkah laku yang liar didalam negara ini dari orang-orang yang mengaku beriman dan bertuhan. Kita ambil satu contoh dari pemerintahan di negara tercinta ini: seorang menteri agama (Menteri agama jelas beriman dan bertuhan) tetapi mengapa kepemimpinannya dalam menjabat sebagai seorang menteri agama dia masih berani melakukan tindakan korupsi?, itukah menteri agama yang mengaku bertuhan?!!?(Dasar menteri Abmoral!!! huwakakakaka...!!!).

Dari penjelasan diatas dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa manusian yang beriman/bertuhan belum tentu memiliki moral, tetapi sebaliknya manusia yang bermoral pastilah dia beriman/bertuhan. Karena moral adalah pancaran hidup manusia yang beriman/bertuhan.

Jika kita mendefinisikan Moral secara jawanologi, kata moral yang tersusun dari tiga aksara:
Ma: 16 yang bearti suratan hidup atau takdir.(1 adalah hidup dan 6 adalah kiblat hidup (roso, bathin, ati, akal, pikir, dan budi)).
Ra : 4 yang berarti modal dasar hidup yakni empat sifat Tuhan (Maha Murah, Maha Welas, Maha Asih serta Maha Adil)
La : 10 yang berarti Dasa Sila (sepuluh perintah Tuhan)

Dasa Sila:
1. Manusia diwajibkan Bertuhan.
2. Manusia diwajibkan berbakti sujud kepada orang tua.
3. Manusia berbakti kepada mertua.
4. Manusia berkeluarga.
5. Manusia diwajibkan berwangsa
6. Manusia diwajibkan bermasyarakat
7. Manusia diwajibkan bernegara.
8. Manusia diwajibkan berhukum.
9. Manusia diwajibkan berkasih sayang kepada sesama.
10. Unenge kalbu mangestu tunggal mrih hayuning bahwana (Setiap percikan kalbu/niatan untuk kesentausaan/kedamaian atas dunia raya)

Susunan tiga aksara tersebut berjumlahkan 30 yang merupakan landasan hidup.
30 secara Islam adalah 30 Jus Al-Qur'an yang merupakan pegangan umat Islam, secara Jawanologi 30: 3 adalah Imanogxi Queta, moralixqu Queta, dan IQnogxi Queta dan 0 adalah jagad pribadi/mikrocosmos.

Jika kita mengaku makhluk beriman/bertuhan maka hendaklah berbina diri terhadap moral kita hingga mencapai moralixq Queta (moral tertinggi). Moral kurang lengkap tanpa Imanogxi Queta dan IQnogxi Queta. Dan jika setiap pribadi manusia telah mencapai Imanogxi Queta, moralixqu Queta, dan IQnogxi Queta, maka terciptalah akhlakul karimah atau manusia berbudi pekerti luhur. Jikat kita senantia meningkatkan ketiga titik hukum tersebut maka secara tidak langsung kita sudah mengagungkan tuntunan para Rasul (Duta Surga) yang diturunkan didunia ini guna membina moral umat manusia. Hinnga kita menjadi manusia bertuhan yang memiliki iman kang sentoso, roso kang pramono, bathin kang suci, dan luhur ing pambudi.

LUGU

Negara kita tercinta ini memiliki beraneka ragam budaya, khususnya tanah jawa. Mengapa kita di jaman yang serba canggih seperti sakarang ini menghilangkan ciri khas sebagai orang jawa yaitu "lugu". LUGU merupakan sifat yang luhur dari pribadi orang jawa, mari kita kaji kembali makna sastra yang sangat sederhana di lingkungan masarakat bangsa yang mempertahankan kepribadian Nasionalnya, kemudian diangkat ke forum ilmiah yang di sinari oleh: Jawanologi lengkap dengan hukum ULTRAXKIUMXI nya menjadikan Rumus " BUDI DHARMA MULIA"

LUGU menurut jawanologi di artikan:
1. Lenggah Silo Mranoto Gomo. (senantiasa menghadap/sujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa/ibadah)
Betapa tinggi nilai kemanusiaanya, siapa yang benar-benar mencapai taraf ini.
2. Underane Laku den Wujudno kelawan Tindak-Tanduk-Tumindak Adedasar TATA-TITI-SUCI.
Nampak disini betapa manusia bertuhan yang selalu merasa kehadirannya di dunia ini; berkawan/tidak sendirian. Atas dasar kesadaran hukum bertuhan inilah manusia sangat Peka prasaannya, Peduli kepada sesama. Tidak akan berbuat sebelum beberapa kali berfikir untung ruginya secara interen (keluarga) exteren (orang lain/anggota masyarakat). Sebab manusia yang demikian ini adalah: Manusia prinsip yang produk ideal: Berani mengambil resiko demi tegaknya Kebenaran serta Keadilan Hakiki/Qodrati
3.Genah Moh - Duro - Cidro - Duroko (Berani menghakimi diri) inilah petahannan jiwanya yang tangguh dan tanggon.
4.Bila kita selalu dan senantiasa mampu secara tertib melakukan: Perintah ILLAHI (tulus serta mulus) ketiga kekuatan di atas maka hadiahnya/pahalanya"UNENGE KALBU MANGESTU TUNGGAL MRIH HAYUNE BAWONO" maka tercapailah kesejahteraan keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia. Inilah kehendak ALLAH menurunkan Agama lengkap dengan segala firman serta petunjuknya (bukan untuk di hafalkan).

Bila kita hitung menurut sastra jawa LUGU terdiri dari 2 huruf yaitu La dan Ga yang berarti:
La = laku (Perbuatan/tindak- tanduk-tumindak)
Ga = Gusti (Tuhan yang maha kuasa)
huruf Lo berjumlah 10, sedangkan Go berjumlah 17 bila di satukan 10+17 = 27
10 = Asal tiada kembali ketiadaanya
17 = Ha -Ta (hananing tatanan/Hukum) Gusti genah prodo bagusing ati = Bila kita mengaku sebagai hamba Tuhan yang maha kuasa haruslah kita memiliki hati yang bersih/suci.
27 adalah 2+7 = 9
2 memiliki arti: Duoxxigomx oxxiumxi ( Hukum dan Kasih sayang ) sebagai pedoman dharma/perbuatan kita hidup dalam kehidupan baik interen maupun exteren.
7 memiliki arti: Pitedah tunggal ( petunjuk dari Tuhan yang maha kuasa/ kitab suci )
9 memiliki arti: Sangkang paraning dumadi ( Asal usul manusia/waktu kita belum lahir di dunia ini )

Setelah kita membaca uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa LUGU adalah satu sifat yang sangat luhur, janganlah kita merasa malu karena memiliki sifat yang lugu.
Lugu bukan berarti bodoh/colon/dudulz, akan tetapi lugu sangatlah baik daripada memiliki sifat rekayasa (suka pada kebohongan ) sebagai manusia bertuhan

MEMAKNAI SEDULUR SONGO

Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya...