Menurut sastra jawa 'Moral' tersusun dari tiga aksara, yakni: Ma, Ra, dan La. Masing-masing aksara memiliki arti sendiri-sendiri. Ma berarti Manungso atau Manusia, Ra artinya Rasa, La berarti Laku atau perbuatan. Jadi moral berarti segala tingkah laku manusia yang didasari dari kepekaan rasa. Jika suatu tingkah laku tanpa di dasari rasa (rasa rumangsa, rasa risih, rasa rinekso, serta rasa rumekso/saling menghormati) maka itu bukanlah moral melainkan abmoral.
Didalam setiap agama, moral adalah suatu hal yang diutamakan, tujuan seluruh agama yang ada di dunia ini guna menata/membina moral seluruh umat manusia di dunia. Dan semua agama pasti mengajarkan itu. Karena itu moral sangatlah penting didalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan jika dalam suatu kehidupan tanpa moral maka akan hancurlah kehidupan itu.
Dalam bab moral ini kita ambil contoh dari memburuknya negara kita tercinta ini. Mungkin rapuhnya negara kita ini akibat krisis moral yang terjadi pada bangsa ini. Sehinga banyak tindakan abmoral, seperti penyelewengan sumpah jabatan, penyalahgunaan kemajuan tekhnologi, ilegal logging, dan lain-lain. Itu semua merupakan hasil dari suatu perbuatan manusia yang tidak didasari oleh rasa yang suci alias tak bermoral.
Kita semua tahu bahwa negara kita ini adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang mayoritas rakyatnya mengaku mempunyai iman/bertuhan. Akan tetapi mereka semua belum tentu memiliki moral yang tinggi. Sesungguhnya moral adalah suatu cermin dari manusia yang beriman/bertuhan, tetapi mengapa banyak terjadi tindakan/tingkah laku yang liar didalam negara ini dari orang-orang yang mengaku beriman dan bertuhan. Kita ambil satu contoh dari pemerintahan di negara tercinta ini: seorang menteri agama (Menteri agama jelas beriman dan bertuhan) tetapi mengapa kepemimpinannya dalam menjabat sebagai seorang menteri agama dia masih berani melakukan tindakan korupsi?, itukah menteri agama yang mengaku bertuhan?!!?(Dasar menteri Abmoral!!! huwakakakaka...!!!).
Dari penjelasan diatas dapat kita ambil satu kesimpulan bahwa manusian yang beriman/bertuhan belum tentu memiliki moral, tetapi sebaliknya manusia yang bermoral pastilah dia beriman/bertuhan. Karena moral adalah pancaran hidup manusia yang beriman/bertuhan.
Jika kita mendefinisikan Moral secara jawanologi, kata moral yang tersusun dari tiga aksara:
Ma: 16 yang bearti suratan hidup atau takdir.(1 adalah hidup dan 6 adalah kiblat hidup (roso, bathin, ati, akal, pikir, dan budi)).
Ra : 4 yang berarti modal dasar hidup yakni empat sifat Tuhan (Maha Murah, Maha Welas, Maha Asih serta Maha Adil)
La : 10 yang berarti Dasa Sila (sepuluh perintah Tuhan)
Dasa Sila:
1. Manusia diwajibkan Bertuhan.
2. Manusia diwajibkan berbakti sujud kepada orang tua.
3. Manusia berbakti kepada mertua.
4. Manusia berkeluarga.
5. Manusia diwajibkan berwangsa
6. Manusia diwajibkan bermasyarakat
7. Manusia diwajibkan bernegara.
8. Manusia diwajibkan berhukum.
9. Manusia diwajibkan berkasih sayang kepada sesama.
10. Unenge kalbu mangestu tunggal mrih hayuning bahwana (Setiap percikan kalbu/niatan untuk kesentausaan/kedamaian atas dunia raya)
Susunan tiga aksara tersebut berjumlahkan 30 yang merupakan landasan hidup.
30 secara Islam adalah 30 Jus Al-Qur'an yang merupakan pegangan umat Islam, secara Jawanologi 30: 3 adalah Imanogxi Queta, moralixqu Queta, dan IQnogxi Queta dan 0 adalah jagad pribadi/mikrocosmos.
Jika kita mengaku makhluk beriman/bertuhan maka hendaklah berbina diri terhadap moral kita hingga mencapai moralixq Queta (moral tertinggi). Moral kurang lengkap tanpa Imanogxi Queta dan IQnogxi Queta. Dan jika setiap pribadi manusia telah mencapai Imanogxi Queta, moralixqu Queta, dan IQnogxi Queta, maka terciptalah akhlakul karimah atau manusia berbudi pekerti luhur. Jikat kita senantia meningkatkan ketiga titik hukum tersebut maka secara tidak langsung kita sudah mengagungkan tuntunan para Rasul (Duta Surga) yang diturunkan didunia ini guna membina moral umat manusia. Hinnga kita menjadi manusia bertuhan yang memiliki iman kang sentoso, roso kang pramono, bathin kang suci, dan luhur ing pambudi.
Sunday, 17 July 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
MEMAKNAI SEDULUR SONGO
Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya...
-
Negara kita tercinta ini memiliki beraneka ragam budaya, khususnya tanah jawa. Mengapa kita di jaman yang serba canggih seperti sakarang ini...
-
Apabila suksma manusia telah sempurna, niscaya akan sirna segala sesuatu yang dapat mengotori watak, seperti halnya sikap rakus dan impia...
No comments:
Post a Comment