Friday, 4 May 2012

MEMAKNAI SEDULUR SONGO


Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya yang mempunyai warna sendiri-sendiri. Kodratullah-oranye, Wujudullah–hitam, Sipatullah–kuning, Datullah–putih, Sirullah–merah, Pangaribawa–biru, Prabawa–kuning emas, Kamayan–putih terang kemilau.
Semua saudara terjadi/tercipta bersamaan dengan turunnya Roh Suci didalam rahim ibu. Kamayan, Prabawa dan Pangaribawa ketiga-tiganya menjadi satu merupakan sang “aku” dari manusia (aku disini bukan “pribadi”), yaitu kekuasaan yang diberikan oleh Allah, untuk mengendalikan kelima saudara lainnya (sirullah, datullah, sipatullah, wujudullah dan kodratullah). Jadi ketiganya menjadi satu angan-angan yang bersifat tiga, punya watak dan kekuasaan sendiri-sendiri. Kekuasaan tertinggi adalah Kamayan, kemudian Prabawa, baru Pangaribawa. Dalam bertindak ketiga-tiganya selalu berbarengan dan membantu/menjiwai/memberi kekuatan tindakan saudara-saudara lainnya. Walaupun menerima kuasa dari Allah, namun tri-tunggal Kamayan-Prabawa-Pangaribawa tidaklah mampu menjamin kesejahteraan jiwa. Yang dapat menjamin kesejahteraan dan keharmonisan jiwa manusia hanyalah Tri Tunggal Mahasuci, Allah, Ingsun dan Roh Suci.
Berikut uraian/penjelasan mengenai Sedulur Songo ( Saudara Sembilan ).
Kodratullah, terjadi dari bayangan Rahsa Jati, wadagnya berada pada dikemaluan. Berkecenderungan negatif kearah nafsu sahwat. Apabila dapat dikuasai maka akan dapat diarahkan menjadi dasar kekuatan akan keindahan.
Wujudullah, yang terjadi dari anasir tanah/bumi wadagnya ada di daging-kulit. Berkecenderungan serakah, tamak, mau menang sendiri, curang, lamban, malas, serta menjauhkan dari kebaikan. Namun kalau dapat dikuasai bisa menjadi dasar kekuatan jasmani dan ketabahan serta tahan penderitaan.
Sirullah, yang terjadi dari anasir api, wadagnya berada didalam darah. Wataknya berangasan, amarah, tidak sabaran dan gelap mata. Kalau bisa dikendalikan menjadi kemauan, tekad dan ketekunan bahkan menjadi jalan bagi saudara-saudara lainnya dalam mencapai tujuan. Tanpa bantuan dan daya Sirullah maka tiada dapat tercapai.
Sifatullah, terjadi dari anasir air, wadagnya berada didalam tulang dan sumsum. Kekuatannya terasakan sebagai kehendak, yang menyebabkan adanya keinginan-keinginan, atau cita-cita. Dapat menjadi sarana Karsa Allah. Akan menjadi negatif apabila tidak dikendalikan, kearah kegemaran-kegemaran serta kesenangan-kesenangan yang tidak baik.
Dazullah, terjadi dari anasir hawa, berada di napas. Mempunyai watak jernih, belas kasih, bekti, cenderung akan hal-hal kesucian. Kekuatannya sanggup menimbulkan kesanggupan untuk berkorban atas dasar kasih, mendorong untuk tercapainya ketenteraman dalam hidup dengan sesama. Kekuatannya menimbulkan kesanggupan untuk berbakti, penyerahan total manembah kepada Panuntun Sejati/Guru Sejati untuk makin mendekat dan bersatu dengan Allah.
Pangaribawa, terjadi dari bayangan Roh Suci, wadagnya berujud pusar dan halusnya ada di angan-angan berupa “cipta”. Merupakan kekuatan paling bawah dari jiwa manusia. Pangaribawa memberi kekuatan kepada fungsi pancaindera. Maka, kekuatan ini seyogyanya diarahkan untuk menangkap hal-hal yang positif sesuai ajaran Guru Sejati untuk keutamaan hidup.
Prabawa, terjadi dari bayangan Ingsun/Guru Sejati, halusnya berada di angan-angan berupa “nalar”. Daya kekuatannya melebihi Pangaribawa. Prabawa memberi kemampuan untuk mengolah semua hal yang ditangkap oleh Pangaribawa. Prabawa kemudian mendorong akan timbulnya pertanyaan apa, kenapa, bagaimana, dsb. Untuk menemukan jawaban yang tepat. Seyogyanya Prabawa haruslah didampingi erat oleh Datullah yang mendorong kearah kejujuran dan cinta kebenaran agar tidak terjerumus kerah pembenaran-pembenaran tindakan yang salah.
Kamayan, merupakan bayangan dari Allah ta’ala/Pengeran/Gusti Yang Maha Agung, wadagnya wujud jantung dan halusnya berada di angan-angan berupa “akal budi”. Kekuatannya yang disebut Kamayan atau Maya adalah kekuatan tertinggi dari angan-angan. Kamayan memberi kemampuan untuk memperoleh pengertian-pengertian yang luas dan mendalam mengenai hal-hal yang ditangkap oleh Pangaribawa dan Prabawa, sehingga dapat diambil intinya dan kesimpulannya.
Bayu Sejati, terjadi dari daya kekuatan kuasa Allah, wadagnya di tulang ekor sampai sumsum tulang belakang. Mempunyai daya kekuatan luar biasa. Enerji kundalini adalah salah satu daya kekuatan yang bersumber dari Bayu Sejati.
Kesembilan saudara; Bayu Sejati, Sirullah, Datullah, Sifatullah, Wujudullah, Kodratullah, Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan, berada dalam badan halusan manusia, yang harus dapat dikuasai agar saling bekerja sama dengan baik, agar tercapailah keadaan jiwa yang seimbang dan harmonis untuk meningkatkan keutamaan/budi luhur. Sifat angan-angan (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) yang cenderung dapat menghalangi merasuknya pancaran sinar Illahi adalah karena sifat kedaulatannya, yang menimbulkan “aku” manusia. Aku nya manusia kemudian dapat dihinggapi oleh rasa perasaan kuasa. Inilah yang dapat menyebabkan seolah Nur Hidup merupakan cahaya yang bagaikan bayang-bayang yang tidak jelas, samar, karena tertutup oleh angan-angan.
  • Wujudullah dan Kodratullah, bisa sempurna bertindak kalau mendapat daya kekuatan dari Sirullah.
  • Sirullah dapat bertindak dengan baik apabila memperoleh daya kekuatan Sipatullah.
  • Sipatullah yang mengkoordinasikan agar Sirullah dan Wujudullah serta Kodratullah membantu kemauannya.
  • Datullah lah yang seharusnya dapat menerangi akan tindakan-tindakan saudara-saudara lainnya. Jadi Sipatullah harus mau menerima pepadang/penerangan dari Datullah, yang kemudian memberi daya kepada Datullah untuk dapat menerangi ketiga saudara lainnya yaitu Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah agar berjalan didalam kebenaran dan kebaikan. Maka demikian pula Sipatullah tanpa bekerja sama dengan Datullah, akan menjadi budak Sirullah, Wujudullah dan Kodratullah, yang cenderung diajak berjalan kearah ketidak baikan/hal-hal negatif.
  • Semua hal tersebut, agar dapat terlaksana menjadi tindakan, apabila dibantu/dijiwai oleh ketiga saudara Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan. Jadi tiga saudara inilah yang seharusnya menuntun dan memberi jalan kepada Datullah agar menjadi kuat dan menggandeng Sipatullah. Angan-angan menjadi terang apabila mendukung Datullah agar selalu membawa kearah keinginan dan tindakan yang luhur dan membangun watak yang utama.
  • Kalau nafsu-nafsu (kelima saudara) dapat dikendalikan/dikuasai, maka angan-angan atau ketiga saudara (Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan) menjadi lebih mudah dikendalikan, dikumpulkan menjadi satu didalam hati sanubari, janganlah sampai berhubungan dengan otak. Hal ini sangat diperlukan dalam upaya untuk dapat menerima “anugerah” tuntunan dari Ingsun/Guru Sejati.
  • Bayu Sejati lah yang pada akhirnya direngkuh untuk memberi daya lebih untuk tujuan-tujuan spiritual maupun hal-hal kebaikan lainnya yang “lebih jauh”.
Maka apabila kesembilan saudara tadi sudah dapat dikuasai, dikendalikan dan patuh kepada aku sejati ya Roh Suci nya manusia, Wujudullah menjadi dasar kekuatan, Sirullah tidak sabar akan kebaikan, Sipatullah menjadi lantaran keinginan dan kehendak, Datullah menjadi sempurna kesuciannya dan panembahnya kepada Ingsun/Guru Sejati/Rasul Sejati dan Allah. Dimana Pangaribawa, Prabawa dan Kamayan menyatu menjadi satu cipta luhur atau akal budi yang jernih, didalam ketenangan/ketenteraman yang eneng. Dan, terwujudlah jalan rahayu kearah kemulyaan langgeng, Alam Sejati.
Dalam kenyataan hidup keseharian sampai hayat masih dikandung badan, secara terus menerus ngracut busana kamanungsan adalah merupakan PR dan tugas yang harus dilaksanakan secara disiplin terus-menerus oleh kita. Maka, sudah barang tentu tugas ini sangatlah berat.




Wednesday, 2 May 2012

MEMAHAMI KASAMPURNAN

Apabila suksma manusia telah sempurna, niscaya akan sirna segala sesuatu yang dapat mengotori watak, seperti halnya sikap rakus dan impian semu. Suksma akan menghadap Sang Pencipta, merengkuh cintaNya dan berharap manfaat serta limpahan cahayaNya.
Allah akan menyambut suksma itu secara total. Tatapan Ketuhanan memandanginya dan menjadikannya seperti papan. kemudian Allah akan menjadikan pena dari suskma sejati. Dan pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.
Suksma sejati laksana guru, suksma manusia suci ibarat sang murid. Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan padanya semua bentuk terukir tanpa proses belajar maupun berfikir. Dalilnya : “Dan Dialah yg mengajarkanmu apa-apa yang tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).
Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya dibandingkan ilmu mahluk-mahluk yang lain. Karena ilmu tersebut diperoleh langsung dari Yang Maha Esa tanpa perantara. Kau bisa memahami dalam kisah para malaikat dengan kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya para malaikat terus belajar. Dan dengan berbagai cara mereka berhasil mendapatkan banyak macam ilmu, sehingga mereka menjadi mahluk yang paling berilmu dan mahluk paling berpengetahuan.
Sementara itu, Adam tidaklah tergolong ahli ngelmu karena ia tidak pernah belajar dan berjumpa dengan seorang guru. Malaikat bangga dan dengan besar hati mereka berkata: “padahal kami Senantisa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” (QS. Al-Baqarah:30).
Kanjeng Nabi Adam kembali menuju Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah dikeluarkan ketika ia menghadap dan memohon pertolongan kepada Tuhan. Lalu Allah ajarkan seluruh nama-nama benda. “Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat, lantas Allah berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Al-Baqarah:31).
Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi terlihat sempit. Mereka tak bisa berbangga dan besar hati, justru yang ada hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yg Engkau ajarkan kepada kami” (QS. Al-Baqarah:32).
Maka kepada mereka Adam diberitahukan beberapa bagian ilmu dan hal-hal yang masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yang bersumber dari wahyu lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan ilmu yang diperoleh dengan penglihatan langsung.
Ilmu yang diperoleh melalui wahyu merupakan warisan dari hak para nabi. Namun mulai masa Kanjeng Nabi Muhammad pintu wahyu telah ditutup oleh Allah. Sebab Muhammad adalah penutup para nabi. Dia mewakili sosok paling berilmu dan paling fasih dikalangan manusia. Allah telah mendidiknya dengan budi pekertinya menjadi baik.
Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena ilmu tersebut diperoleh langsung dari Sang Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah menjalankan proses belajar-mengajar insani.

  Disampaikan sebagai ilham yaitu peringatan suksma sejati terhadap suksma manusia berdasarkan kadar kejernihan, penerimaan dan daya kesiapannya. Ilham boleh dikatakan mengiringi wahyu. Kalau wahyu merupakan penegasan perkara gaib, maka ilham merupakan penjelasannya. Ilmu yg diperoleh dengan wahyu itulah sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yang diperoleh dengan ilham itulah sejatinya ilmu kewalian.
Ilmu kewalian diperoleh secara langsung, tanpa perantara antara suksma dan Sang Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu laksana secercah cahaya dari alam gaib, yang datang menerpa hati yg jernih, hampa dan lembut.
Semua ilmu merupakan produk pengetahuan yg diperoleh dari suksma sejati yang terdapat dalam inti sangkan paraning dumadi dengan menisbatkan pada RASA SEJATI, seperti penisbatan Siti Hawa kepada Kanjeng Nabi Adam.
Ketahuilah , rasa sejati lebih mulia, lebih sempurna dan lebih kuat dari disisi Allah dibandingkan suksma sejati. Sedangkan suksma sejati lebih terhormat, lebih lembut dan lebih mulia dibandingkan mahluk-mahluk lain.
Adapun ilham itu terlahir dari melimpahnya rasa sejati dan juga terlahir dari melimpahnya pancaran sinar suksma sejati. Jika wahyu menjadi perhiasan para nabi, maka ilham menjadi perhiasan para wali. Adapun ilmu yg diperoleh dari wahyu adalah sebagaimana suksma tanpa rasa atau wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan menjadi kuat jika dinisbatkan kepada wahyu yang bersandar pada penglihatan ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali.
Ketahuilah, ilmu yang diperoleh dengan wahyu hanya khusus bagi para rasul, seperti diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad saw dan para rasul lain. Itulah yang menbedakan antara risalah dengan nubuwwah . Adapun nubuwwah adalah perolehan hakikat dari ilmu dan rasionalitas-rasionalitas oleh suksma yang suci kepada orang-orang yang mengambil manfaat. Barangkali perolehan semacam itu didapat salah satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban menyebarkannya karena suatu alasan dan oleh sebab-sebab tertentu.
Ilmu kasampurnaan menjadi milik seorang nabi dan wali, sebagaimana dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd dalil: “Dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-Kahfi:65).
Ingatlah ketika khalifah Ali berujar: “Kumasukan lisanku kemulutku, hingga terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yang pada setiap pintu terdapat seribu pintu yang lain”. Dan ia berkata: “Andai kuletakkan bantal dan aku duduk diatasnya, niscaya aku akan mengambil putusan hukum bagi penganut Taurat berdasarkan Taurat mereka, bagi penganut Injil berdasarkan Injil mereka, dan bagi penganut al-Quran berdasarkan al-Quran mereka”.
Derajat seperti ini tidak bisa diterima dengan melalui ilmu kemanungsan semata yg hanya dari pembelajaran insani. Pastilah seseorang yg telah mencapai derajat tersebut telah dikarunia ilmu kasampurnaan.
Jika Allah mengkehendaki kebaikan pada dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau hijab yg menghalangi dirimu dengan suksma yang menjadi papan itu. Dengan demikian, sebagian rahasia dari apa-apa yang tersembunyi akan ditampakan padamu.  Segenap makna yg terkandung didalam rahasia tersebut akan terpahat pada suksmamu. Dan suksma itupun mengungkapkan sebagaimana engkau ingin karena dikehendakiNya.
Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu kasampurnaan. Selama engkau belum mencapai derajat atau tingkatan ini, engkau tidak akan menjadi seorang arif. Karena kearifan merupakan pemberian Hyang Widi. Dalilnya : “Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang2 yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-Baqarah:269).
Hal itu karena orang-orang yg berhasil mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu lagi banyak berusaha memahami ilmu secara induktif dan berpayah-payah belajar. Orang yg demikian sedikit belajar, banyak mengajar, sedikit capai, banyak istirahat.
Ketahuilah , setelah wahyu terputus dan sesudah pintu risalah ditutup, umat manusia tidak lagi membutuhkan kehadiran rasul atau utusan. Mereka tidak lagi memerlukan penampakan dakwah setelah penyempurnaan agama. Bukanlah termasuk kearifan menampakan nilai lebih tidak berdasarkan kebutuhan.
Tapi ketahuilah, pintu ilham itu tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya suksma sejati tidak pernah terputus. Karena suksma terus membutuhkan arahan, pembaharuan dan peringatan. Umat manusia tidak memerlukan risalah dan dakwah, tetapi masih membutuhkan peringatan sebagai akibat dari tenggelamnya mereka pada rasa was-was dan terhanyut oleh gelombang syahwat.
Karena itu Allah menutup pintu wahyu sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan membuka pintu ilham sebagai rahmat serta menyiapkan segala sesuatu menyusun tingkatan-tingkatan supaya mereka tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba-hambaNya, memberikan rezeki kepada siapa saja yang dikendaki tanpa perhitungan. Selesai sudah nasehatku tentang kawruh kesejatian yang kubeberkan padamu. Hendaklah engkau bisa menggunakan sebaik mungkin.

SAMADHI PHANA METHA AUM WASTHUTI AUM

Kata Samadhi, meditasi, kontemplasi, manekung, tafakur, sembahyang atau apapun namanya adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Banyak cara untuk bisa mendekatkan diri. Tiap manusia mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendekat pada GUSTI ALLAH Kang Murbehing Dumadi.

Tetapi untuk bisa mendekat pada GUSTI ALLAH tidaklah semudah menjentikkan jari. Karena pasti banyak gangguan untuk bisa konsentrasi dengan khusyuk guna mendekatkan pada GUSTI ALLAH itu. Untuk bisa meraih kekhusyukan itu, seseorang perlu untuk belajar samadhi, meditasi, kontemplasi, manekung, sholat, sembahyang atau apapun namanya.
 Memasuki alam suwung (kosong) adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang akan berlanjut dengan rasa kasmaran untuk pencarian jati diri. Di alam suwung itu tidak ada suara, tidak ada siapa-siapa, tidak ada arah. Yang ada hanyalah keheningan yang mendalam. Boleh dikatakan dari alam suwung itulah kita semua berasal. Dan dari alam suwung itulah, seorang salik memulai sebuah pencarian. Pencarian untuk memahami dirinya sendiri sehingga nantinya akan dapat berjumpa dengan  GUSTI KANG MURBEHING DUMADI.

 Untuk bisa memasuki alam suwung tersebut, seorang salik harus mencapai kondisi nol terlebih dulu. Seperti sudah dibahas sebelumnya, kondisi nol merupakan salah satu syarat untuk mendekatkan diri pada GUSTI ALLAH. Mustahil seorang salik bisa mencapai alam suwung tanpa melewati kondisi nol.

Dalam kondisi nol, maka seseorang sudah dalam keadaan konsentrasi penuh. Dari situlah ia berangkat  mendaki untuk mencari siapa sebenarnya jati dirinya. Sebelum memahami jati dirinya, seseorang akan terlebih dulu memasuki sebuah alam yang disebut alam suwung.

Untuk menuju ke kondisi nol dan melanjutkan perjalanan ke alam suwung, banyak sekali godaan yang dihadapi. Godaan tersebut bermacam-macam seperti bau yang tidak tahu dari mana sumbernya, suara yang tidak tahu dari mana asalnya dan siapa yang ngomong.

Rasa nala kang sira sedya,
Semang-semang tan gawa padhang,
Piwulang tama ginulang,
Sinung nupiksi werdi kang nyata,
Tan bakal sisip susup ing surup.

Rupa-rupa rerupan kang kasat nètra,
Ana ganda tan tinanpa ing grana,
Ana swara tan tinampa ing karna,
Kekeranè alam suwung asepi,
Pirang-pirang wadi kang tan kawedènan,
Karana kasengker ing Widhi.

Wikanana kang anyata,
Anulada kang utama,
Makarti tami nugraha katampi,
Piwulang aji tinemu mesthi.


 Jika semua godaan itu bisa teratasi, maka seseorang sudah bisa dikatakan dalam kondisi nol. Nah, dalam kondisi nol tersebut seorang salik akan merasakan kenikmatan dan ketentraman tersendiri. Rasa kasmaran akan timbul dalam benaknya dan ia harus mendaki lagi memasuki alam suwung sehingga bisa memahami jati diri dan hanya bisa pasrah serta mengharapkan anugerah dan tuntunan GUSTI ALLAH semata.

Tuesday, 19 July 2011

AGAMA DAN FALSAFAH JAWA

Ajaran Kejawen bukanlah agama, melainkan sebuah falsafah hidup. Karena itu, menganut dan menghayati ajaran ini, tidak mesti keluar dari agama yang semula dipeluk. Seorang Muslim yang juga menghayati Ajaran Kejawen, tetaplah seorang Muslim: Kejawen tak lebih dari sebuah sudut pandang atau kerangka dalam menafsirkan Islam. Dengan kata lain, seorang penganut Islam Kejawen, adalah tetap seorang Muslim yang memiliki berbagai kesamaan fundamental dengan Muslim lainnya di berbagai belahan penjuru dunia dalam hal keyakinan, sistem etika maupun praktek ritual. Namun saat yang sama, ia memiliki perbedaan dalam hal citarasa keagamaan, dalam hal pandangan dunia dan dalam penerapan nilai-nilai agama pada hidup keseharian, yang bertolak dari penghayatan terhadap kenyataan hidup dan kebudayaan yang melingkupinya, yang niscaya berbeda dengan Muslim di berbagai belahan dunia lainnya.

Cara berislam orang Jawa niscaya berbeda dengan cara berislam orang Badui Arab, sebagaimana berbeda pula dengan cara berislam orang India, Persia, Cina dan Eropa. Pada kenyataannya, kebudayaan lokal – sebagaimana kepentingan politik sebuah rezim - tak bisa diabaikan dalam membangun budaya masyarakat Islam di berbagai belahan dunia. Saya ingin membuat sebuah pembanding: bagaimana kebudayaan Persia menjadi titik tolak bagi kemunculan sebuah cara berislam yang khas, berbeda dengan corak yang lazim berkembang atau menjadi arus utama di Jazirah Arab.

Henry Corbin, dalam karyanya Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnu Arabi yang diterbitkan Penerbis LKIS (judul aslinya L’Imagination creative dans le Soufism d”Ibn ‘Arabi terbitan Princeton University Press New York), memaparkan apa yang telah dihasilkan oleh seorang jenius spiritual Persia bernama Syihabuddin Yahya Suhrawardi (1155-1191) sebagai berikut: “Meskipun hidupnya terputus begitu singkat, ia berhasil mewujudkan rencana sebuah rencana besarm menghidupkan kembali kebijakan Persia kuno di Iran. Doktrinnya tentang cahaya dan kegelapan. Hasilnya adalah filsafat, atau tepatnya dengan mengambil istilah bahasa Arab dalam arti asal katanya, “teosofi cahaya” (hikmat al-isyraq) yang banyak kita temukan persamaannya di halaman-halaman Ibnu Arabi. Dalam mewujudkan rencana besar ini Suhrawardi menyadari bahwa dirinya tengah mendirikan ‘Kebijakan Timur’ yang juga telah dicita-citakan Ibnu Sina dan yang pengetahuannya kelak akan sampai ke Roger Bacon pada abad 13.” Seperti apakah produk pemikiran Suhrawardi yang diangkat dari kebijakan Persia kuno ini? Henry Corbin menjelaskan: “Salah satu ciri yang esensial adalah bahwa di dalamnya filsafat dan pengalaman mistik tidak bisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalah spekulasi yang sia-sia, pengalaman mistik yang tidak dilandasi pengkajian filsafat yang logis akan menghadapi bahaya kehinaan dan ketersesatan.”

Secara lebih teknis, Suhrawardi berusaha melestarikan hak istimewa imajinasi sebagai organ dunia tengah, sekaligus melestarikan realitas-realitas khusus peristiwa-peristiwa penampakan Ilahi yang melampaui apa yang bisa dicerap oleh panca indera. Dalam karya-karyanya, Suhrawardi menampilkan sebuah tema khas: pencarian dan perjumpaan dengan Roh Kudus, akal aktif, Malaikat Pengetahuan, dan wahyu, yang kesemuanya itu berada di alam al-mi’tsal (dunia citra bayangan).

Apa yang dikerjakan oleh Suhrawardi, kemudian bertautan dengan karya-karya besar Ibnu Arabi. Pemikiran kedua mistikus besar ini kemudian benar-benar bercampur baur, menjadi landasan bagi terbangunnya sebuah pandangan dunia Islam yang khas Iran. Ide dominan dari dua tokoh ini yang kemudian dilanjutkan oleh para tokoh Persia lainnya adalah mengenai keberadaan teofani (tajalli, Penampakan Tuhan) dalam bentuk manusia. Manusia ini adalah manusia yang telah mencapai tataran kesempurnaan: ia merupakan manifestasi dari Tuhan. Dalam doktrin Islam Syiah yang berkembang di Iran, sosok manusia ideal sebagai manifestasi Tuhan ini dipahami sebagai para imam suci keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali dan Fatimah.

Sementara menyangkut diri Ibnu Arabi sendiri, dengan bertumpu pada metode beragama yang mengedepankan Imajinasi Kreatif sebagai organ untuk menangkap kebenaran sejati, ia masuk pada rangkaian pengalaman spiritual yang kaya: pertemuan dengan berbagai wujud tak kasat mata seperti Nabi Khidir, juga sosok gadis jelita Sophia Aeterna, dan akhirnya pencapaian berbagai pengetahuan tanpa proses belajar yang lazim. Ia misalnya, bisa melahirkan karya monumental berjudul Fushus al-Hikam (Mutiara Kebijaksanaan Para Nabi), berkat suatu penampakan (vision) dalam sebuah mimpi pada tahun 627 H/1230 M. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad menampakkan diri kepada Ibnu Arabi sambil memegang kitab yang judulnya beliau ucapkan sendiri dan beliaupun memerintahkan agar ajaran-ajaran di dalam kitab itu ditulis demi kemanfaatan yang lebih besar bagi murid-muridnya. Sementara karya hebat lainnya, Futuhat al-Makiyyah fi Ma’rifah al-Asrar al-Malikiyyah wa al-Mulkiyyah (Perihal Wahyu-wahyu yang Turun di Mekkah Mengenai Pengetahuan Raja dan Kekuasaan), disusun berdasarkan ilham dan visi yang membanjiri Ibnu Arabi ketika berthawaf mengelilingi Ka’bah dan setelah bertemu dengan sosok gadis jelita bernama Sofia yang muncul dari kegelapan malam.

Lebih jauh bisa dijelaskan, melalui cara beragama yang menekankan pentingnya pengalaman ruhani secara langsung dengan memanfaatkan keberadaan organ Imajinasi Kreatif, Suhrawardi, Ibnu Arabi dan para penerusnya kemudian memperkenalkan apa yang disebut dengan ta’wil, penafsiran bathin atau spiritual esoterik, terhadap ajaran-ajaran agama sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci maupun Hadits Nabi. Diyakini bahwa di makna lahiriahnya, ayat-ayat Al Qur’an mengandung makna bathin yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mata bathinnya atau Imajinasi Kreatifnya telah teraktivasi melalui disiplin ruhani tertentu.

Cara pendekatan seperti ini, tentu saja berbeda dengan cara beragama yang yang sangat dominan di kalangan Sunni yang berbasis di Jazirah Arab dan mewarnai dunia Islam lainnya: yang pertama adalah kelompok yang cenderung menolak kesahihan pengalaman mistis sekaligus menolak filsafat sebagaimana ditampilkan mayoritas Ahli Hadits atau Ulama Fiqh, yang kedua adalah kelompok tasawuf yang memuliakan pengalaman mistis tapi mengabaikan filsafat.

Dominasi kelompok tasawuf yang anti filsafat di kalangan Sunni, merupakan andil sosok yang sangat berpengaruh: Imam Al-Ghozali yang digelari Hujattul Islam. Serangan Al-Ghozali terhadap filsafat berperan melumpuhkan tradisi intelektual di kalangan Sunni. Sempat bangkit sesaat di masa Ibnu Rusyid, tradisi intelektual ini kemudian hanya menjadi arus pinggiran yang dinikmati segelintir intelektual Sunni, hingga saat ini.

Sementara cara beragama yang legalistik, kering, bahkan pada titik tertentu membelengu potensi kemanusiaan yang menjadi tipikal mayoritas ahli fikih dan ahli hadits, ironisnya justru mewabah di tempat asal muasal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad: Mekkah dan Madinah, yang berimbas pada Jazirah Arab dan berbagai belahan dunia lainnya yang berkiblat kepadanya. Ini tak lepas dari kemenangan politik kelompok penerus Ibnu Taymiah yang anti-filsafat sekaligus anti-tasawuf. Kelompok ini menjadi dominan ketika Muhammad bin Abdul Wahhab yang berkoalisi dengan Dinasti Ibnu Suud, sukses menuai kemenangan politik dan lantas berkuasa di Arab Saudi hingga saat ini. Dan karena berada di jantung dunia Islam, pengaruhnya terhadap kawasan masyarakat Muslim lainnya jelas tak bisa diabaikan. Dengan jargon pemurnian Islam, kelompok ini relatif sukses meneguhkan hegemoninya di dunia Islam: corak Islam lain yang mengapresiasi tradisi lokal acapkali secara serampangan disebut sebagai bid’ah yang patut dihancurkan.

Sebetulnya, cara beragama yang legalistik dan kering itulah yang sempat dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali menjangkiti umat Islam:
"Akan tiba waktunya bagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentuk luarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil diri mereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu. Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpin agama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawah langit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada mereka semua itu akan dikembalikan."
(Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar)

Itu pula yang dikritik oleh Fariduddin Attar, Sufi dari Nishapur:

"Semua agama, seperti para teolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apa yang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya, moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentu yang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.

...agama dilembagakan sebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal, alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.

Hanya orang-orang yang bijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuat kendaraan itu bergerak lagi."

Kembali pada Islam ala Jawa atau Islam Kejawen, jika kita merujuk pada apa yang terjadi di Persia, jelas itu merupakan sebuah keniscayaan bahkan merupakan gejala yang sah. Ketika Islam hadir, Tanah Jawa ataupun Nusantara bukanlah padang tandus tanpa peradaban. Dalam beberapa hal, peradaban di kawasan ini telah demikian maju. Kejawen atau tradisi lokal Jawa yang telah diperkaya oleh Kebudayaan Hindu Budha dari India, merupakan sesuatu yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh manusia Jawa. Apalagi manusia Jawa memiliki memori kolektif bahwa dengan melandaskan kehidupan mereka pada budaya luhur sebagai hasil sintesa antara Kajewen dengan Hindu Budha, kejayaan politik dan kemakmuran ekonomi pernah dicapai, baik di masa Kerajaan Kutai, Sunda Galuh dan Pajajaran, Sriwijaya maupun Majapahit.

Sudah selayaknya, para cerdik pandai di Tanah Jawa melanjutkan kebiasaan cerdas untuk mensintesiskan apa yang sudah ada (yaitu tradisi lokal) dengan apa yang baru hadir dan dipandang baik (termasuk ajaran Islam, baik yang dibawa oleh para mistikus Persia seperti Syeikh Subakir, maupun para pedagang Arab yang kemudian disebut sebagai para wali). Upaya sintesis antara Islam dan Kejawen ini, terutama dilakukan oleh raja-raja dan para pujangga dari kerajaan yang meneruskan tak hanya garis darah Majapahit tetapi juga sekaligus strategi budayanya: Pajang dan Mataram. Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan beberapa penerusnya, adalah sosok raja yang memanfaatkan kekuasaan politik mereka untuk melestarikan corak keagamaan khas Tanah Jawa: agama yang dijawakan. Pada masa lalu, Hindu Budha telah dijawakan sedemikian rupa sehingga Hindu Budha di Tanah Jawa dan Nusantara berbeda dengan Hindu Budha di negeri asalnya, India. Demikian pula, pada masa Pajang dan Mataram, Islam dijawakan sedemikian rupa sehingga jelas tak sama lagi citarasanya dengan Islam yang disampaikan oleh para pendakwahnya dari Persia maupun Jazirah Arab.

Lalu apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan menjawakan Islam? Menjawakan Islam artinya adalah menafsirkan Islam sesuai dengan tradisi mistik yang telah berkembang di Tanah Jawa, baik yang berangkat dari ajaran Kejawen asli maupun Kejawen yang telah diperkaya dengan Hindu dan Budha. Konsep-konsep Kejawen seperti rahsa sejati, sukma sejati, manunggaling kawula gusti, harmoni jagad alit jagad ageng, termasuk ritual-ritual masyarakat Jawa seperti slametan, dipergunakan sebagai instrumen untuk membumikan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari manusia Jawa. Cara pandang Kejawen mengenai hakikat dan struktur ruhani manusia, asal muasal dan tujuan kehidupan, hubungan antara wadah dan isi dan pemahaman bahwa isi lebih penting ketimbang wadah, dan berbagai konsep lainnya, melandasi tindakan orang Jawa dalam menafsirkan Islam. Secara keseluruhan, kita bisa melihat bahwa Islam Kejawen adalah sebuah sistem keagamaan yang mengedepankan dimensi mistik, sangat menghargai pengalaman ruhani, dan meyakini bahwa instrumen terpenting dalam menangkap kebenaran adalah rahsa sejati, yang bisa disejajarkan dengan intuisi, dzauk ataupun Imajinasi Kreatif. Akal budi atau fakultas rasional, tentu saja tidak diabaikan, tetapi dianggap bukan sebagai instrumen yang paling akurat karena ia memiliki keterbatasan: akal budi tidak bisa menembus alam kasunyatan yang dalam khazanah Ibnu Arabi disebut dengan alam al-mitsal.

Kita bisa melihat, bahwa dengan corak demikian, Islam Kejawen lebih dekat dengan corak Islam ala Persia sebagaimana dikembangkan oleh Suhrawardi dan Ibnu Arabi. Dan saat yang sama, berbeda cukup serius dengan Islam ala Timur Tengah, khususnya yang berorientasi pada purifikasi dan terpengaruh kuat oleh ajaran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Di Tanah Jawa sendiri, ketegangan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini muncul baik dalam dinamika politik berupa pergulatan antara Kesultanan Demak dengan Kerajaan Pajang dan Mataram, berbagai fragmen penghukuman tokoh-tokoh mistik yang dianggap sesat seperti Syeikh Siti Jenar, Ki Ageng Kebo Kenongo, Syeikh Mutamakkin, juga dalam bentuk perdebatan intelektual antara para pujangga dan mistikus Islam Kejawen seperti Raden Ronggo Warsito dan KGPAA Mangkunegoro IV dengan para lawannya. Pada masa Indonesia modern, perdebatan bahkan pergulatan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini tampak dengan jelas pada masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalangan yang mengedepankan dimensi mistis Islam yang diujungtombaki Presiden RI pertama Soekarno, berhasil menancapkan rancangan negara ini lebih sebagai negara spiritualis tapi bukan negara agama, melalui penetapan Pancasila yang memiliki sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara. Konsep negara spiritualis ini yang sebetulnya bisa menyatukan berbagai kalangan termasuk kalangan non-Muslim dari berbagai daerah di Indonesia. Tanpa itu, sulit dibayangkan negara ini bisa meraih kemerdekaannya, karena tak ada kemerdekaan tanpa persatuan.

Dalam karya monumentalnya Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menulis penuh semangat:
“Islam is progress – Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam satu surat yang terdahulu. Kemajuan karena fardhu, kemajuan karena sunnah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya. Progress berarti barang yang baru, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaan baru, creation baru – bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama. Di dalam politik, Islampun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang yang lama, tidak boleh mau mengulang saja segala sistem-sistemnya jaman kalifah-kalifah yang besar. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanya menganjurkan political system seperti di jamannya khalifah-khalifah besar itu? Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya ketimbang dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluannya – cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman khalifah-khalifah yang besar itu? Ah, lupakah kita bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang menganggitkan? Bahwa mereka mengambil saja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita ambil dari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Abunya, debunya, ah, ya, asapnya! Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islam ibadat-zonder-taqwa, abunya yang tahu cuma baca Fatihah dan tahlil saja – tetapi bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung jaman yang satu ke ujung zaman yang lain.

Begitulah saya punya seruan dari Endeh. Mari kita camkan di dalam kita punya akal dan perasaan, bahwa kini kita bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warisan Nabi yang mauludnya kita rayakan hari ini. Hanya dengan begitulah kita bisa menghormati Dia dalam arti penghormatan yang sehormat-hormatnya. Hanya dengan begitu kita bisa sebenar-benarnya mengatakan bahwa kita adalah umat Muhammad bukan umatnya kaum faqih dan umatnya kaum ulama.”

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mendapatkan api dan intisari Islam? Itu tidak bisa dilakukan dengan mengikuti Islam pada lahirnya sebagaimana dilakukan kebanyakan faqih dan ulama. Tetapi kita harus menghidupkan akal budi sekaligus rasa sejati, berfilsafat sekaligus bermetafisika, sehingga kita bisa menangkap makna bathin dari Kalam Allah dan Sunnah Rasulnya. Itulah yang disebut api Islam oleh Soekarno! Dan berlandaskan api Islam dan api dari Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, bahkan agama-agama lokal itu, ia dan para founding fathers yang bijak menetapkan Indonesia sebagai negara kebangsaan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara agama atau negara Islam ala kaum faqih dan para ulama.

Karena panggilan darah dan kesadaran yang bersemi di relung hati yang paling dalam, saya harus dengan jujur mengatakan, bahwa saya memilih mengikuti para leluhur yang agung di Tanah Jawa Ki Ageng Kebo Kenongo, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, juga Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro IV. Terlebih, pada kasus saya pribadi, lewat laku prihatin dan rangkaian meditasi dalam bimbingan guru saya, saya seperti menjadi wadah atau media bagi jiwa-jiwa masa lalu khususnya Ki Ageng Kebo Kenongo, Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro untuk bisa hadir kembali pada masa kini. Saya tak bisa meninggalkan keislaman saya, karena Islam telah melekat demikian kuat di dalam diri saya sebagai buah pendidikan sejak kecil, juga karena saya ditakdirkan hidup dalam keluarga dan komunitas Islam, dan yang paling penting: saya masih bisa menemukan dimensi Islam yang teramat mempesona seperti yang ditampilkan oleh Ibnu Arabi, Suhrawardi, Jalaluddin Rummi dan para mistikus hebat lainnya.

Pilihan menganut Islam Kejawen, di satu sisi memang benar-benar buah sebuah perjalanan ruhani yang bersifat pribadi. Saya memilih Islam Kejawen karena itu yang membuat saya tenteram, damai, mantap, seiring dengan terhubungnya diri saya pada masa lalu. Selain itu, pilihan ini membuat saya seakan punya energi memadai untuk mengundang kehidupan penuh berkah yang begitu saya dambakan. Di sisi lain, pilihan ini juga merupakan sesuatu yang logis seiring munculnya kesadaran bahwa diri saya pribadi mesti berkontribusi untuk mencegah negara ini menjadi negara gagal – meminjam istilah Francis Fukuyama. Saat ini, kita mengalami degradasi moralitas, krisis identitas, kerusakan sumber daya alam, mewabahnya kemiskinan, merebaknya kekerasan termasuk yang kekerasan atas agama. Itu semua adalah pertanda bahwa kita punya potensi menjadi negara gagal. Agar kekhawatiran itu tak terjadi, kita perlu melakukan upaya revolusioner, dan yang terpenting adalah di bidang kebudayaan. Pilihan saya terhadap Islam Kejawen adalah simbol kembalinya saya pada ajaran leluhur, simbol kembalinya saya pada jatidiri, pada fondasi kebudayaan yang kukuh. Ini, jika dilakukan dalam skala masif, adalah pencapaian penting yang bisa menjadi titik tolak bagi perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada segala aspeknya. Begitu dari segi kebudayaan kita mengalami revolusi ke arah yang lebih baik - ketika budaya Indonesia mengalami restorasi sebagaimana Restorasi Meiji hingga pada titik kembali pada jatidiri, maka perbaikan pada aspek politik dan ekonomi tinggal menunggu waktu.

Rahayu. Kedamaian untuk kita semua

Sunday, 17 July 2011

JIWA

Dahulu jiwa tercipta tidak ada yang percaya
Bahwa jiwa akan berbuat aniaya terhadap sesama
Atas kasih sayang jiwa menjadi mulia
Semesta sujud berikan penghormatan....

Jiwa turun kedunia karena wanita...
Karena wanita jiwa mengerti arti bahagia
Wanita dicipta untuk jiwa agar memahami arti cinta
Dgn cinta jiwa mengerti bahwa jiwa adalah seorang hamba...

Cinta bukan memiliki akan tetapi hanya ingin dimiliki
Biarlah cinta yang membawa jiwa kepada pemiliknya
Hanya Tulus dan Ikhlas yang membuat cinta itu bermakna
Karena Cinta telah cukup untuk cinta....!

AGAMA MENURUT DEFINISI JAWA

Hampir seluruh umat manusia di bumi ini beragama. Meskipun agama di dunia ini lebih dari satu itupun tetap agama, yang merupakan satu pegangan hidup manusia. Dan semua tetap memliki definisi yang berbeda-beda juga tentang apa itu agama.

Hari ini penulis mencoba tuk mengolah akal, pikiran, serta rasa untuk mendefinisikan apa arti agama secara Jawanologi. Dilihat dari susunan kata, Agama terdiri dari tiga aksara jawa yaitu: Ha,Ga, dan Ma. Masing-masing aksara memiliki arti tersendiri. 'Ha' berarti Hurip (Hidup), 'Ga' berarti Gusti (Tuhan), 'Ma' berarti Manungso (Manusia).




Dari Gambar diatas kita dapat mengartikan kata "Agama" sesuai hitungan masing-masing aksara:
Ha: 1
Ga: 17
Ma: 16
Ketiganya bila dijumlahkan akan menjadi 34 dan 34 sendiri adalah berjumlah 7 (tujuh) yang dalam bahasa jawa dibilang pitu yang artinya pituduh atau petunjuk agar bisa menuju apa tujuan hidup yang sebenarnya.

Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil satu kesimpulan yang berarti agama adalah satu pegangan hidup yang mengatur bagamaina cara hidup bertuhan dan berkemanusiaan. Dan Agama itulah yang akan menunjukkan, menuntun dan mengarahkan hidup manusia dalam kehidupan agar tidak tersesat dalam melangkah didalam kehidupan ini.

Memang agama didunia ini lebih dari satu dan memiliki sebutan yang berbeda-beda, namun semua agama itu mengajarkan ajaran yang sama yaitu mengajarkan bagaimana cara bertuhan dan berkemanusian. Jika seluruh umat beragama menyadari satu kesamaan tersebut, maka keharmonisan hidup di dunia ini akan terwujud tanpa ada peselisihan bahkan peperangan antar umat manusia yang hanya menunjukkan kegoisan dan kebodohan akal, pikiran, dan rasa sebagai manusia yang beragama.
Dan dengan menyadari kesamaan tersebut, mungkin tidak hanya keharmonisan hidup yang akan terwujud, mungkin keromantisan dunia inipun akan terlihat jelas menghiasi kehidupan ini. (LOL

FILSAFAT PANDHAWA

FILSAFAT PENDHAWA

pendhawa mempunyai makna hukum:
1. Pendadaraning titah iku tuhu mulo
2. Dhawuh kersaning Qodrati
3. Wajib den tindaki kelayan tulus mulus ayekti

Demikianlah hukum illahi yang berlaku bagi manusia, manusia harus selalu di godhok oleh derita serta kesengsaraan sebagai ujian mematangkan jiwa serta akhlak betuhanNYA (STRILIGXIGOMX OXXIUMXIUMXO)
Kesatria pandhawa senantiasa mendapat gemblengan lahir batin demi mempersiapkan Baratha Yuda Jaya BinagunNYA

pendhawa yang di sinari Hukum alfabetogxi: 16.5.14.4.8.23.1 = 72
I. 70 = berasal dari 17-8-45 :
a. Manusia tidak akan lepas dari hukum belahan tujunya.
b. Manusia pendhawa/Madrima Suprama/manusia super harus mencapai " INDRA LOKANYA " ( kesorgaanya/manunggalin kawulo gusti )
c. 8 = dari hukum masyarakat bangsa: demokrasi salaka darma yang di sebut Hastabharata : 8 jalan utama
1. Ora jahil 5. Ora diri
2. ora methakil 6. Ora dumeh
3. Ora drengki 7. Ora aji mumpung
4. Ora srei 8. Ora ma-pat-na
d. 45 = adalah jumlah rumus angka Qodrati jawanologi:0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0
a.1 = Manungso (manunggaling roso/mani wangsa tetesing air mani yang menjelma INSAN mewujudkan bebrayan, msyarakat keluarga ( wongso)
satu padukuhan yang dipimpin Ki Pagede ( buyut dari semua wangsa)
b.2 = orang tua yang mengadakanya ( kalih - kagalih wontenipun taruna )
c.3 = Trimurti soko kencana shakti ( tigo- katitisaning igo kiwo-------wanito---- hawa dari tulang rusuk kiri Adam )
d.4 = Budhi darma mulia sebagai pewarna hidup manusia atau masih merupakan nur illahi/ catur dharmi sekawan : sembodo- kharsa - wanda perwujudtan
dari niat yang alami ( Qodrati ) " Catur hening wismendyia : melakukan sesuatu atas dasar kewajiban qodrati secara mantab.)
e.5 = lima : liwating manungso soko margo hino ( jalan dosa ) karenanya manusia harus membayar cicilan kharmanya atas dasar " Perbuatan yang terpuji"
gangsal : gangangane salangkang ( wadi = alat vital
f.6 = Nenem : nedya nembung karo sing kagungan mrih laras karo hananing toto lan susilo.
" Hiksana wudya dharmyastibwu Aum "
g.7 = Pitu : pitedah tunggal, sangkaning soko : Sir - Cipto - kharso ( tri gatra Yakti Guna )
Sir ingsun-Ciptaningsun-kharsaningsun
h.8 = Wolu: wohing luhur :Dikodratkan asal dari NYA, tata susila akan melahirkan budi pekerti luhur ( kharma phala )
i. 9 = Songo : - Sangkan paraning ngahurip
- Song - songe mula hana
( segala perbuatan mulia akan di dukung oleh segala kasihNYA) " dharmaningrum ptat tityuga hananing gung "

II. 2 = HUKUM SERTA KASIH SAYANG YANG MENYERTAI KITA ABDI PANGEJAHWANTAH SIFATNYA "

Hukum jawnologinya : pa : di pepet gatrnogxinya : 11- 12 - 9 = 32 pengetrapaning toto susilo mulo di pepet dining Gunging
dha : Dhawuh sabdaningsun den tindakno kelayan bener mungguhing pener.
Wa : Wahananing Sun, iku wujudno kelayan Wahananing iro kang mulus.

Betapa manusia selalu dan senantiasa mandapat petunjuk - ilhamNYA." disinilah bukti kenyataanya betapa leluhur bangsa tidak bosan-bosanya memberikan petunjuk serta hukum : Dharmaning astbwiya

MEMAKNAI SEDULUR SONGO

Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya...