Tuesday, 19 July 2011

AGAMA DAN FALSAFAH JAWA

Ajaran Kejawen bukanlah agama, melainkan sebuah falsafah hidup. Karena itu, menganut dan menghayati ajaran ini, tidak mesti keluar dari agama yang semula dipeluk. Seorang Muslim yang juga menghayati Ajaran Kejawen, tetaplah seorang Muslim: Kejawen tak lebih dari sebuah sudut pandang atau kerangka dalam menafsirkan Islam. Dengan kata lain, seorang penganut Islam Kejawen, adalah tetap seorang Muslim yang memiliki berbagai kesamaan fundamental dengan Muslim lainnya di berbagai belahan penjuru dunia dalam hal keyakinan, sistem etika maupun praktek ritual. Namun saat yang sama, ia memiliki perbedaan dalam hal citarasa keagamaan, dalam hal pandangan dunia dan dalam penerapan nilai-nilai agama pada hidup keseharian, yang bertolak dari penghayatan terhadap kenyataan hidup dan kebudayaan yang melingkupinya, yang niscaya berbeda dengan Muslim di berbagai belahan dunia lainnya.

Cara berislam orang Jawa niscaya berbeda dengan cara berislam orang Badui Arab, sebagaimana berbeda pula dengan cara berislam orang India, Persia, Cina dan Eropa. Pada kenyataannya, kebudayaan lokal – sebagaimana kepentingan politik sebuah rezim - tak bisa diabaikan dalam membangun budaya masyarakat Islam di berbagai belahan dunia. Saya ingin membuat sebuah pembanding: bagaimana kebudayaan Persia menjadi titik tolak bagi kemunculan sebuah cara berislam yang khas, berbeda dengan corak yang lazim berkembang atau menjadi arus utama di Jazirah Arab.

Henry Corbin, dalam karyanya Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnu Arabi yang diterbitkan Penerbis LKIS (judul aslinya L’Imagination creative dans le Soufism d”Ibn ‘Arabi terbitan Princeton University Press New York), memaparkan apa yang telah dihasilkan oleh seorang jenius spiritual Persia bernama Syihabuddin Yahya Suhrawardi (1155-1191) sebagai berikut: “Meskipun hidupnya terputus begitu singkat, ia berhasil mewujudkan rencana sebuah rencana besarm menghidupkan kembali kebijakan Persia kuno di Iran. Doktrinnya tentang cahaya dan kegelapan. Hasilnya adalah filsafat, atau tepatnya dengan mengambil istilah bahasa Arab dalam arti asal katanya, “teosofi cahaya” (hikmat al-isyraq) yang banyak kita temukan persamaannya di halaman-halaman Ibnu Arabi. Dalam mewujudkan rencana besar ini Suhrawardi menyadari bahwa dirinya tengah mendirikan ‘Kebijakan Timur’ yang juga telah dicita-citakan Ibnu Sina dan yang pengetahuannya kelak akan sampai ke Roger Bacon pada abad 13.” Seperti apakah produk pemikiran Suhrawardi yang diangkat dari kebijakan Persia kuno ini? Henry Corbin menjelaskan: “Salah satu ciri yang esensial adalah bahwa di dalamnya filsafat dan pengalaman mistik tidak bisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalah spekulasi yang sia-sia, pengalaman mistik yang tidak dilandasi pengkajian filsafat yang logis akan menghadapi bahaya kehinaan dan ketersesatan.”

Secara lebih teknis, Suhrawardi berusaha melestarikan hak istimewa imajinasi sebagai organ dunia tengah, sekaligus melestarikan realitas-realitas khusus peristiwa-peristiwa penampakan Ilahi yang melampaui apa yang bisa dicerap oleh panca indera. Dalam karya-karyanya, Suhrawardi menampilkan sebuah tema khas: pencarian dan perjumpaan dengan Roh Kudus, akal aktif, Malaikat Pengetahuan, dan wahyu, yang kesemuanya itu berada di alam al-mi’tsal (dunia citra bayangan).

Apa yang dikerjakan oleh Suhrawardi, kemudian bertautan dengan karya-karya besar Ibnu Arabi. Pemikiran kedua mistikus besar ini kemudian benar-benar bercampur baur, menjadi landasan bagi terbangunnya sebuah pandangan dunia Islam yang khas Iran. Ide dominan dari dua tokoh ini yang kemudian dilanjutkan oleh para tokoh Persia lainnya adalah mengenai keberadaan teofani (tajalli, Penampakan Tuhan) dalam bentuk manusia. Manusia ini adalah manusia yang telah mencapai tataran kesempurnaan: ia merupakan manifestasi dari Tuhan. Dalam doktrin Islam Syiah yang berkembang di Iran, sosok manusia ideal sebagai manifestasi Tuhan ini dipahami sebagai para imam suci keturunan Nabi Muhammad dari garis Imam Ali dan Fatimah.

Sementara menyangkut diri Ibnu Arabi sendiri, dengan bertumpu pada metode beragama yang mengedepankan Imajinasi Kreatif sebagai organ untuk menangkap kebenaran sejati, ia masuk pada rangkaian pengalaman spiritual yang kaya: pertemuan dengan berbagai wujud tak kasat mata seperti Nabi Khidir, juga sosok gadis jelita Sophia Aeterna, dan akhirnya pencapaian berbagai pengetahuan tanpa proses belajar yang lazim. Ia misalnya, bisa melahirkan karya monumental berjudul Fushus al-Hikam (Mutiara Kebijaksanaan Para Nabi), berkat suatu penampakan (vision) dalam sebuah mimpi pada tahun 627 H/1230 M. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad menampakkan diri kepada Ibnu Arabi sambil memegang kitab yang judulnya beliau ucapkan sendiri dan beliaupun memerintahkan agar ajaran-ajaran di dalam kitab itu ditulis demi kemanfaatan yang lebih besar bagi murid-muridnya. Sementara karya hebat lainnya, Futuhat al-Makiyyah fi Ma’rifah al-Asrar al-Malikiyyah wa al-Mulkiyyah (Perihal Wahyu-wahyu yang Turun di Mekkah Mengenai Pengetahuan Raja dan Kekuasaan), disusun berdasarkan ilham dan visi yang membanjiri Ibnu Arabi ketika berthawaf mengelilingi Ka’bah dan setelah bertemu dengan sosok gadis jelita bernama Sofia yang muncul dari kegelapan malam.

Lebih jauh bisa dijelaskan, melalui cara beragama yang menekankan pentingnya pengalaman ruhani secara langsung dengan memanfaatkan keberadaan organ Imajinasi Kreatif, Suhrawardi, Ibnu Arabi dan para penerusnya kemudian memperkenalkan apa yang disebut dengan ta’wil, penafsiran bathin atau spiritual esoterik, terhadap ajaran-ajaran agama sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci maupun Hadits Nabi. Diyakini bahwa di makna lahiriahnya, ayat-ayat Al Qur’an mengandung makna bathin yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang mata bathinnya atau Imajinasi Kreatifnya telah teraktivasi melalui disiplin ruhani tertentu.

Cara pendekatan seperti ini, tentu saja berbeda dengan cara beragama yang yang sangat dominan di kalangan Sunni yang berbasis di Jazirah Arab dan mewarnai dunia Islam lainnya: yang pertama adalah kelompok yang cenderung menolak kesahihan pengalaman mistis sekaligus menolak filsafat sebagaimana ditampilkan mayoritas Ahli Hadits atau Ulama Fiqh, yang kedua adalah kelompok tasawuf yang memuliakan pengalaman mistis tapi mengabaikan filsafat.

Dominasi kelompok tasawuf yang anti filsafat di kalangan Sunni, merupakan andil sosok yang sangat berpengaruh: Imam Al-Ghozali yang digelari Hujattul Islam. Serangan Al-Ghozali terhadap filsafat berperan melumpuhkan tradisi intelektual di kalangan Sunni. Sempat bangkit sesaat di masa Ibnu Rusyid, tradisi intelektual ini kemudian hanya menjadi arus pinggiran yang dinikmati segelintir intelektual Sunni, hingga saat ini.

Sementara cara beragama yang legalistik, kering, bahkan pada titik tertentu membelengu potensi kemanusiaan yang menjadi tipikal mayoritas ahli fikih dan ahli hadits, ironisnya justru mewabah di tempat asal muasal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad: Mekkah dan Madinah, yang berimbas pada Jazirah Arab dan berbagai belahan dunia lainnya yang berkiblat kepadanya. Ini tak lepas dari kemenangan politik kelompok penerus Ibnu Taymiah yang anti-filsafat sekaligus anti-tasawuf. Kelompok ini menjadi dominan ketika Muhammad bin Abdul Wahhab yang berkoalisi dengan Dinasti Ibnu Suud, sukses menuai kemenangan politik dan lantas berkuasa di Arab Saudi hingga saat ini. Dan karena berada di jantung dunia Islam, pengaruhnya terhadap kawasan masyarakat Muslim lainnya jelas tak bisa diabaikan. Dengan jargon pemurnian Islam, kelompok ini relatif sukses meneguhkan hegemoninya di dunia Islam: corak Islam lain yang mengapresiasi tradisi lokal acapkali secara serampangan disebut sebagai bid’ah yang patut dihancurkan.

Sebetulnya, cara beragama yang legalistik dan kering itulah yang sempat dikhawatirkan oleh Sayyidina Ali menjangkiti umat Islam:
"Akan tiba waktunya bagi umatku, ketika tidak ada yang tersisa dari Al-Qur'an kecuali bentuk luarnya dan tidak ada Islam kecuali namanya dan mereka akan memanggil diri mereka dengan nama tersebut walau mereka adalah umat yang paling jauh dari itu. Mesjid mereka akan penuh dengan jamaah tapi kosong dari petunjuk. Para pemimpin agama (fuqoha) masa itu merupakan para pemimpin agama paling jahat di bawah langit, kemungkaran dan perselisihan akan muncul dari mereka dan kepada mereka semua itu akan dikembalikan."
(Sayyidina Ali dalam Bihar al-Anwar)

Itu pula yang dikritik oleh Fariduddin Attar, Sufi dari Nishapur:

"Semua agama, seperti para teolog dan pengikut mereka memahami kata itu, adalah sesuatu yang lain dari apa yang diperkirakan orang. Agama adalah sebuah kendaraan. Ekspresinya, ritualnya, moralnya, dan ajarannya yang lain dirancang untuk menimbulkan pengaruh tertentu yang memperbaiki, pada waktu tertentu, komunitas tertentu.

...agama dilembagakan sebagai sebuah alat mendekati kebenaran. Bagi mereka yang berpikir dangkal, alat selalu menjadi tujuan, dan kendaraan menjadi berhala.

Hanya orang-orang yang bijak, bukan orang yang beragama atau berpengetahuan, yang dapat membuat kendaraan itu bergerak lagi."

Kembali pada Islam ala Jawa atau Islam Kejawen, jika kita merujuk pada apa yang terjadi di Persia, jelas itu merupakan sebuah keniscayaan bahkan merupakan gejala yang sah. Ketika Islam hadir, Tanah Jawa ataupun Nusantara bukanlah padang tandus tanpa peradaban. Dalam beberapa hal, peradaban di kawasan ini telah demikian maju. Kejawen atau tradisi lokal Jawa yang telah diperkaya oleh Kebudayaan Hindu Budha dari India, merupakan sesuatu yang tak bisa dilupakan begitu saja oleh manusia Jawa. Apalagi manusia Jawa memiliki memori kolektif bahwa dengan melandaskan kehidupan mereka pada budaya luhur sebagai hasil sintesa antara Kajewen dengan Hindu Budha, kejayaan politik dan kemakmuran ekonomi pernah dicapai, baik di masa Kerajaan Kutai, Sunda Galuh dan Pajajaran, Sriwijaya maupun Majapahit.

Sudah selayaknya, para cerdik pandai di Tanah Jawa melanjutkan kebiasaan cerdas untuk mensintesiskan apa yang sudah ada (yaitu tradisi lokal) dengan apa yang baru hadir dan dipandang baik (termasuk ajaran Islam, baik yang dibawa oleh para mistikus Persia seperti Syeikh Subakir, maupun para pedagang Arab yang kemudian disebut sebagai para wali). Upaya sintesis antara Islam dan Kejawen ini, terutama dilakukan oleh raja-raja dan para pujangga dari kerajaan yang meneruskan tak hanya garis darah Majapahit tetapi juga sekaligus strategi budayanya: Pajang dan Mataram. Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan beberapa penerusnya, adalah sosok raja yang memanfaatkan kekuasaan politik mereka untuk melestarikan corak keagamaan khas Tanah Jawa: agama yang dijawakan. Pada masa lalu, Hindu Budha telah dijawakan sedemikian rupa sehingga Hindu Budha di Tanah Jawa dan Nusantara berbeda dengan Hindu Budha di negeri asalnya, India. Demikian pula, pada masa Pajang dan Mataram, Islam dijawakan sedemikian rupa sehingga jelas tak sama lagi citarasanya dengan Islam yang disampaikan oleh para pendakwahnya dari Persia maupun Jazirah Arab.

Lalu apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan menjawakan Islam? Menjawakan Islam artinya adalah menafsirkan Islam sesuai dengan tradisi mistik yang telah berkembang di Tanah Jawa, baik yang berangkat dari ajaran Kejawen asli maupun Kejawen yang telah diperkaya dengan Hindu dan Budha. Konsep-konsep Kejawen seperti rahsa sejati, sukma sejati, manunggaling kawula gusti, harmoni jagad alit jagad ageng, termasuk ritual-ritual masyarakat Jawa seperti slametan, dipergunakan sebagai instrumen untuk membumikan nilai-nilai universal Islam dalam kehidupan sehari-hari manusia Jawa. Cara pandang Kejawen mengenai hakikat dan struktur ruhani manusia, asal muasal dan tujuan kehidupan, hubungan antara wadah dan isi dan pemahaman bahwa isi lebih penting ketimbang wadah, dan berbagai konsep lainnya, melandasi tindakan orang Jawa dalam menafsirkan Islam. Secara keseluruhan, kita bisa melihat bahwa Islam Kejawen adalah sebuah sistem keagamaan yang mengedepankan dimensi mistik, sangat menghargai pengalaman ruhani, dan meyakini bahwa instrumen terpenting dalam menangkap kebenaran adalah rahsa sejati, yang bisa disejajarkan dengan intuisi, dzauk ataupun Imajinasi Kreatif. Akal budi atau fakultas rasional, tentu saja tidak diabaikan, tetapi dianggap bukan sebagai instrumen yang paling akurat karena ia memiliki keterbatasan: akal budi tidak bisa menembus alam kasunyatan yang dalam khazanah Ibnu Arabi disebut dengan alam al-mitsal.

Kita bisa melihat, bahwa dengan corak demikian, Islam Kejawen lebih dekat dengan corak Islam ala Persia sebagaimana dikembangkan oleh Suhrawardi dan Ibnu Arabi. Dan saat yang sama, berbeda cukup serius dengan Islam ala Timur Tengah, khususnya yang berorientasi pada purifikasi dan terpengaruh kuat oleh ajaran Ibnu Taymiah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Di Tanah Jawa sendiri, ketegangan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini muncul baik dalam dinamika politik berupa pergulatan antara Kesultanan Demak dengan Kerajaan Pajang dan Mataram, berbagai fragmen penghukuman tokoh-tokoh mistik yang dianggap sesat seperti Syeikh Siti Jenar, Ki Ageng Kebo Kenongo, Syeikh Mutamakkin, juga dalam bentuk perdebatan intelektual antara para pujangga dan mistikus Islam Kejawen seperti Raden Ronggo Warsito dan KGPAA Mangkunegoro IV dengan para lawannya. Pada masa Indonesia modern, perdebatan bahkan pergulatan antara Islam Kejawen dan Islam ala Timur Tengah ini tampak dengan jelas pada masa pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalangan yang mengedepankan dimensi mistis Islam yang diujungtombaki Presiden RI pertama Soekarno, berhasil menancapkan rancangan negara ini lebih sebagai negara spiritualis tapi bukan negara agama, melalui penetapan Pancasila yang memiliki sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara. Konsep negara spiritualis ini yang sebetulnya bisa menyatukan berbagai kalangan termasuk kalangan non-Muslim dari berbagai daerah di Indonesia. Tanpa itu, sulit dibayangkan negara ini bisa meraih kemerdekaannya, karena tak ada kemerdekaan tanpa persatuan.

Dalam karya monumentalnya Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menulis penuh semangat:
“Islam is progress – Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam satu surat yang terdahulu. Kemajuan karena fardhu, kemajuan karena sunnah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh djaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batas-batasnya. Progress berarti barang yang baru, yang lebih tinggi tingkatannya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaan baru, creation baru – bukan mengulang barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama. Di dalam politik, Islampun orang tidak boleh meng-copy saja barang-barang yang lama, tidak boleh mau mengulang saja segala sistem-sistemnya jaman kalifah-kalifah yang besar. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanya menganjurkan political system seperti di jamannya khalifah-khalifah besar itu? Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu perikemanusiaan mendapatkan sistem-sistem baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatannya ketimbang dulu? Tidakkah zaman sendiri menjelmakan sistem-sistem baru yang cocok dengan keperluannya – cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman khalifah-khalifah yang besar itu? Ah, lupakah kita bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang menganggitkan? Bahwa mereka mengambil saja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita ambil dari Kalam Allah dan Sunnahnya Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Abunya, debunya, ah, ya, asapnya! Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang mencintai kemenyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islam ibadat-zonder-taqwa, abunya yang tahu cuma baca Fatihah dan tahlil saja – tetapi bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung jaman yang satu ke ujung zaman yang lain.

Begitulah saya punya seruan dari Endeh. Mari kita camkan di dalam kita punya akal dan perasaan, bahwa kini kita bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warisan Nabi yang mauludnya kita rayakan hari ini. Hanya dengan begitulah kita bisa menghormati Dia dalam arti penghormatan yang sehormat-hormatnya. Hanya dengan begitu kita bisa sebenar-benarnya mengatakan bahwa kita adalah umat Muhammad bukan umatnya kaum faqih dan umatnya kaum ulama.”

Pertanyaannya, bagaimana kita bisa mendapatkan api dan intisari Islam? Itu tidak bisa dilakukan dengan mengikuti Islam pada lahirnya sebagaimana dilakukan kebanyakan faqih dan ulama. Tetapi kita harus menghidupkan akal budi sekaligus rasa sejati, berfilsafat sekaligus bermetafisika, sehingga kita bisa menangkap makna bathin dari Kalam Allah dan Sunnah Rasulnya. Itulah yang disebut api Islam oleh Soekarno! Dan berlandaskan api Islam dan api dari Kristen Protestan, Katholik, Hindu, Budha, bahkan agama-agama lokal itu, ia dan para founding fathers yang bijak menetapkan Indonesia sebagai negara kebangsaan berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan negara agama atau negara Islam ala kaum faqih dan para ulama.

Karena panggilan darah dan kesadaran yang bersemi di relung hati yang paling dalam, saya harus dengan jujur mengatakan, bahwa saya memilih mengikuti para leluhur yang agung di Tanah Jawa Ki Ageng Kebo Kenongo, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati, Sultan Agung, juga Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro IV. Terlebih, pada kasus saya pribadi, lewat laku prihatin dan rangkaian meditasi dalam bimbingan guru saya, saya seperti menjadi wadah atau media bagi jiwa-jiwa masa lalu khususnya Ki Ageng Kebo Kenongo, Raden Ronggowarsito dan KGPAA Mangkunegoro untuk bisa hadir kembali pada masa kini. Saya tak bisa meninggalkan keislaman saya, karena Islam telah melekat demikian kuat di dalam diri saya sebagai buah pendidikan sejak kecil, juga karena saya ditakdirkan hidup dalam keluarga dan komunitas Islam, dan yang paling penting: saya masih bisa menemukan dimensi Islam yang teramat mempesona seperti yang ditampilkan oleh Ibnu Arabi, Suhrawardi, Jalaluddin Rummi dan para mistikus hebat lainnya.

Pilihan menganut Islam Kejawen, di satu sisi memang benar-benar buah sebuah perjalanan ruhani yang bersifat pribadi. Saya memilih Islam Kejawen karena itu yang membuat saya tenteram, damai, mantap, seiring dengan terhubungnya diri saya pada masa lalu. Selain itu, pilihan ini membuat saya seakan punya energi memadai untuk mengundang kehidupan penuh berkah yang begitu saya dambakan. Di sisi lain, pilihan ini juga merupakan sesuatu yang logis seiring munculnya kesadaran bahwa diri saya pribadi mesti berkontribusi untuk mencegah negara ini menjadi negara gagal – meminjam istilah Francis Fukuyama. Saat ini, kita mengalami degradasi moralitas, krisis identitas, kerusakan sumber daya alam, mewabahnya kemiskinan, merebaknya kekerasan termasuk yang kekerasan atas agama. Itu semua adalah pertanda bahwa kita punya potensi menjadi negara gagal. Agar kekhawatiran itu tak terjadi, kita perlu melakukan upaya revolusioner, dan yang terpenting adalah di bidang kebudayaan. Pilihan saya terhadap Islam Kejawen adalah simbol kembalinya saya pada ajaran leluhur, simbol kembalinya saya pada jatidiri, pada fondasi kebudayaan yang kukuh. Ini, jika dilakukan dalam skala masif, adalah pencapaian penting yang bisa menjadi titik tolak bagi perbaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada segala aspeknya. Begitu dari segi kebudayaan kita mengalami revolusi ke arah yang lebih baik - ketika budaya Indonesia mengalami restorasi sebagaimana Restorasi Meiji hingga pada titik kembali pada jatidiri, maka perbaikan pada aspek politik dan ekonomi tinggal menunggu waktu.

Rahayu. Kedamaian untuk kita semua

5 comments:

MEMAKNAI SEDULUR SONGO

Saudara sembilan ( Sedulur songo ) kenyataannya tidaklah berada terus menerus dibagian badan Jasad Kasar ini. Halusnya berujud cahaya...